MUI Provinsi DKI Jakarta Selenggarakan FGD Kurikulum Pendidikan Kader Ulama

by -15 views
KH.Munahar Muchtar, Ketua Umum MUI Provinsi DKI Usai menutup FGD, Foto bersama para nara sumber.(Foto : fahr).

Jakarta, Bukti Keseriusan Majelis Ulama Provinsi DKI Jakarta dalam menyiapkan kadernya melalui PKU dan PDU agar menjadi penerus yang sesuai harapan umat, adalah diadakanya acara FGD Penyempurnaan Kurikulum PKU dan PDU MUI provinsi DKI Jakarta yang diselenggarakan selama dua hari, Sabtu-Minggu,
3-4 Agustus 2019, di Santika Hotel, Jakarta Timur.

FGD yang diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari unsur pengurus PKU dan PDU MUI provinsi DKI Jakarta, pengurus MUI tingkat kota dari 5 wilayah kota, pengurus BPPDU, dan para dosen, dibuka oleh Ketua Umum MUI Provinsi DKI, KH. Munahar Muchtar HS.

Hadir pada FGD yang sekaligus memberi sambutan, KH Yusuf Aman, Sekretaris Umum MUI Provinsi DKI Jakarta.

Pada sambutanya, KH Yusuf Aman mengatakan pentingnya merekrut para calon ulama melalui Pendidikan Kader Ulama (PKU) dan Pendidikan Dasar Ulama (PDU) guna regenerasi dan melanjutkan perjuangan para ulama.

“MUI DKI Jakarta sangat berharap kepada prof Dede Rosyada yang saat ini diamanahkan selaku ketua bidang pendidikan pada kepengurusan MUI DKI Jakarta periode 2018-2023 agar dapat membidani kelahiran generasi ulama muda yang kompeten dan berintegritas,
Alharokah barokah, bila kita mau terus bergerak maka akan berdampak baik dan positif,” Kata Kh.Yusuf Aman, Sabtu, 3/8/2019.

Selanjutnya beliau juga berharap agar perubahan kurikulum PKU dan PDU akan semakin baik kedepannya, demikian juga dengan bidang-bidang yang lain akan terus bergerak kedepannya lebih baik lagi. Tutup Kyai Yusuf Aman yang sekaligus mohon izin dan doa karena akan berangkat haji besok Senin 05 Agustus 2019.

Sementara itu Ketua Umum MUI Provinsi DKI Jakarta KH. Munahar Muchtar dalam sambutan yang sekaligus membuka secara resmi FGD MUI Provinsi DKI Jakarta sangat berharap sekali kedepannya PKU dan PDU harus lebih baik lagi. Karenanya para dosen agar mendesain sistem pengajaran sedemikian rupa sehingga output mahasiswa PKU tidak kalah dengan mahasiswa yang mengenyam pendidikan di bangku kuliah.

“Ke depan, bila anggaran MUI DKI Jakarta meningkat, maka anggaran operasional pelaksanaan PKU akan ditingkatkan tiga kali lipat dari sebelumnya,
pemilahan calon mahasiswa PKU harus ketat dan disiplin dari awal pendaftaran sampai proses pelaksanaan perkuliahan. Apabila ada mahasiswa PKU yang melanggar aturan sebaiknya dikeluarkan, sebagai bukti bahwa MUI DKI Jakarta serius dalam mencetak calon generasi ulama muda yang bukan hanya berilmu tapi juga berintegritas,” Tegas KH.Munahar.

KH.Munahar selanjutnya meminta BPPKU agar bisa memikirkan mencari terobosan untuk alumni mahasiswa PKU bisa dipermudah saat masuk ke jenjang kuliah (baca: S1 ke S2 dst).

“Tahun ini agar diupayakan ada mata kuliah yang mampu memotivasi mahasiswa PKU memiliki bahkan menguasai kemampuan komunikasi yang baik di masyarakat,” lanjut KH.Munahar.

Untuk menunjang kelancaran dalam proses KBM, akhir tahun ini, tempat kuliah PKU akan dipindahkan ke Masjid Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat dan harapannya dapat juga diikuti oleh mahasiswa PDU.

“Prof Dede Rosyada selaku ketua bidang pendidikan, agar dapat melakukan kontrol terhadap kegiatan PDU yang dilaksanakan di kota-kota

Dosen yang punya integritas tinggi dalam melayani mahasiswa PKU akan diupayakan bisa diberangkatkan umroh,” tutup KH.Munahar yang disambut dengan aplaous peserta.

Selanjutnya Sambutan prof Dede Rosyada selaku ketua bidang pendidikan di kepengurusan MUI Provinsi DKI Jakarta menyampaikan bahwa Ulama adalah bukan hanya yang ada ilmunya tapi juga akhlaqnya/integritasnya.

“Mengapa harus ada PKU? Karena ulama itu tidak ada pendidikan formalnya. UIN didirikan bukan untuk mempersiapkan/ mencetak ulama tapi mencetak profesional. Ulama itu bukan profesi, karena profesi berorientasi materi. Sementara aktivitas yang berorientasi materi bukanlah bidikan seorang ulama. Orang yang berprofesi, maka dia akan mengukur-ukur pendapatannya, tapi ulama digaji Tuhan, sehingga ia tidak memikirkan pendapatannya berapa,” ujarnya.

Ulama yang menghidupi dirinya dengan ilmu yang dimiliki dan dijadikannya sebagai profesi, maka itu akan menjadi bias, belum utuh integritas keulamaannya.

Versi pesantren, ulama yang sudah tidak masuk lagi ke maqam kasab maka dia baru bisa masuk dalam kategori ulama. Oleh karena itu, pendidikan di PKU (yg akan mencetak generasi ulama) akan sangat berbeda dengan pendidikan Islam di kampus-kampus (yang akan mencetak para profesional)Indonesia adalah negara yang maju dengan agama, maka kemudian peran PKU PDU menjadi penting di masyarakat.

Hadir pada FGD tersebut biro Dikmental DKI Jakarta, Hendra, yang juga menyampaikan sambutanya dan sekaligus mengapresiasi diadakanya FGD MUI Provinsi DKI Jakarta.

“Biro Dikmental DKI Jakarta sangat mengapresiasi kegiatan PKU PDU yg merupakan program unggulan MUI provinsi DKI Jakarta dalam rangka mencetak generasi ulama muda yang berkompeten dan berintegritas dalam pelayanan umat. Salah satu keunggulan MUI dari lembaga lain dalam hal penerimaan anggaran hibah dari Pemprov DKI Jakarta adalah karena MUI memiliki Perpres, Biro Dikmental mengharapkan MUI DKI Jakarta punya database yang menghimpun data alumni PKU PDU yang saat ini sudah berperan dan berkiprah di masyarakat Biro juga tengah menyiapkan Kegiatan yang akan mengundang pengurus PKU, kodi, DMI dalam satu pertemuan yang membahas tentang pentingnya bersinergi antar lembaga.” Kata Hendra.(mur).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *